Aku (puisi #2)
Melangkah aku bukan tuak menggelegak
Sumbu buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing katanya
Aku hidup
Dalam cacar melebar, barah bernanah
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga
June 1943

Aku (puisi #2)
Melangkah aku bukan tuak menggelegak
Sumbu buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing katanya
Aku hidup
Dalam cacar melebar, barah bernanah
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga
June 1943
KabarIndonesia – Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih.
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rekannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Masa kecilnya sehingga dia dewasa dihabiskannya di Medan. Baru pada tahun 1941, atau menurut Keith Foulcher malah tahun 1942, dia pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, Saleha, karena berpisah dengan ayahnya, Toeloes, seorang pamong praja Belanda. Ini berarti sebagian besar masa hidupnya dihabiskan Chairil di Medan.
Chairil telah berusia 20 tahun ketika pindah ke Jakarta, padahal sebagaimana diakuinya dalam suratnya kepada HB Jassin, dia telah menyatakan sikap berkeseniaannya ketika berumur 15 tahun! ”Aku berkesenian dengan sepenuh hati,” katanya. Ini berarti pilihan hidupnya itu secara mantap telah dia pancangkan ketika masih di Medan.
Ironisnya, kita tidak tahu dengan pasti di mana sebenarnya rumah Chairil di Medan. (Alm) Arief Husin Siregar pernah bilang kepada A Rahim Qahhar bahwa rumah Chairil berada di salah satu ”rumah gedong” di Jalan Gajah Mada, Medan Baru. Hal ini tampaknya sejalan dengan sebuah sajak Chairil berjudul ”Rumahku”.
Rumahku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dai luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
(bait I & II)
Kita perhatikanlah larik ”Kulari dari gedong lebar halaman”. Sebuah rumah gedung dengan halamannya yang lebar pada masa Chairil hidup di Medan tahun dua puluhan tentulah bukan sembarang rumah. Artinya, rumah itu tentulah rumah orang berada. Pada waktu itu hanya bangsawan dan pegawai tinggi Belanda saja yang memiliki rumah yang bagus. Dan istilah yang dipakai Chairil untuk rumahnya bukan ”rumah batu” sebagaimana yang lazim dikatakan waktu itu. Tapi ”gedong”! Dan bukan ”gedung”. Pada masa itu hingga ke tahun lima puluhan, orang Medan tahu ”rumah gedong” menunjuk ke kompleks perumahan pamong praja Belanda di Jalan Gajah Mada itu.
Kemudian dalam sajaknya ”Perhitungan” Chairil mendeskripsikan ”rumah gedong”-nya itu dan mengapa ia lari dari sana.
Perhitungan
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya…
Sudah itu tempatku tak tentu di mana.
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi…!?
Kini aku meringkih dalam malam sunyi.
16 Maret 1943
”Satu rumah kecil putih” ini tentu menunjukkan kebagusannya. Apalagi dengan ”lampu merah muda caya”. Artinya rumah itu memakai penerangan dengan lampu listrik. Pada masa itu hal ini tentulah suatu kemewahan dan keistimewaan yang hanya terdapat pada rumah-rumah tertentu. Kebanyakan rumah orang Medan ketika itu hanyalah rumah papan atau tepas yang beratapkan nipah atau rumbia dengan penerangan lampu sentir atau paling banter lampu petromaks.
Tapi, di sisi lain, fenomena rumah Chairil yang eksklusif itu tidak sesuai atau bertolak belakang dengan keterangan seorang kawan dekatnya sesama masih kecil, bernama Sjamsulridwan. Katanya, ”Pantang dikalahkan itulah kira-kira kesimpulan yang saya dapatkan dari kehidupan masa kanak-kanak Chairil semenjak kecilnya hingga menginjak dewasa; baik pantang kalah dalam sesuatu persaingan maupun dalam hal mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.”
”Dan yang lebih menarik hati lagi, althans bagi kami yang mengenal kehidupan rumah tangga mereka, ialah cara hidup kedua suami isteri yang penuh percideraan rumah tangga itu. Kadang-kadang kita bertanya-tanya dalam hati: Bagaimanakah dua orang suami isteri dapat hidup demikian lamanya, bertahun-tahun dengan pertengkaran terus-menerus, boleh dikatakan tiada mengenal damai agak sejenakpun? Keduanya sama-sama galak, sama-sama keras hati, sama-sama tidak mau mengalah. Seolah-olah pertemuan besi dan api yang menimbulkannya. Ia merah percikan api melulu. Di tengah-tengah api percideraan dan pertengkaran begitulah Chairil Anwar hidup dan dibesarkan. Dapatlah kita rasakan, bagaimana pula pengaruh suasana kehidupan demikian terhadap jiwanya. Sedang di samping itu, dia sangat dimanjakan pula. Segala-galanya harus diadakan untuk Chairil, motor-motoran kanak-kanak, sepeda kanak-kanak dan apa lagi permainan atau kegemaran kanak-kanak, yang terbaik. Dan makanan. Bukanlah hal yang aneh untuk sebagai anak-anak menghabiskan seekor ayam goreng seorang diri saja.”
”Kalau Chairil berkelahi, maka bapaknya selalu membenarkan Chairil. Kalau perlu bapaknya juga ikut berkelahi. Memang, bapak Chairil juga punya sifat untuk bersikap ’akulah yang benar’, bukan saja terhadap orang lain, tetapi juga terhadap isterinya sendiri. Karena itulah, keadaan rumah tangga tidak harmonis.” (Arief Budiman, ”Chairil Anwar Sebuah Pertemuan”, Pustaka Jaya, 1976, hal 64-65).
Suasana tempat tinggal yang dilukiskan oleh kawan dekatnya ini tentulah jauh dari suasana ”rumah gedongan” yang eksklusif dan teratur itu. Situasi dan kondisinya lebih mirip kepada kampung rakyat yang padat dan campur baur antara kebanyakan orang miskin dengan sedikit orang berada. Di ”rumah gedong” tentulah fasilitas yang didapatkan Chairil berupa permainan mahal dan makanan enak adalah sesuatu yang lumrah dan sudah pada tempatnya, tidak harus mendapat perhatian atau kecemburuan sosial.
Namun, tentulah sulit diterima kalau di kompleks ”orang berpangkat” itu, kedua orangtuanya terus perang mulut, Chairil kerap membuat onar dan bapaknya pun ikut berkelahi membela anaknya. Fenomena seperti itu tentulah lebih cocok diperkampungan rakyat biasa.
Ada pernyataan seorang penyair, Aldian Aripin, dalam sebuah percakapan dengan saya. Katanya, di awal-awal tahun enam-puluhan, selalu diadakan peringatan tentang Chairil. Kalau mereka mengadakan acara, misalnya di Gedung Kesenian di bawah Titi Gantung (sekarang sudah lenyap dan tergusur), panitia selalu menjemput ibu Chairil yang tinggal di Jalan Singamangaraja di sekitar Mesjid Raya. Dengan demikian, ketika itu ibu Chairil masih hidup dan sudah ”balik kampung” kembali dari Jakarta.
Kalau benar ibu Chairil ketika balik ke Medan kembali menempati rumahnya yang lama, pernyataan Aldian Aripin sesuai dengan suasana yang dilukiskan oleh kawan dekat Chairil, Syamsulridwan, di atas. Di sekitar Mesjid Raya itu, yang disebut dengan Kota Maksum, memang banyak tinggal orang Minang. Jadi, di situlah Chairil Anwar lahir, dibesarkan dan dewasa.
Dan ketika membaca seluruh sajak Chairil yang hanya 70-an biji itu, kita merasa yakin Chairil sangat akrab dengan orang-orang Melayu yang campur baur di perkampungan itu, mengingat suasana diksi dan idiom sajak-sajaknya sangat kental dengan budaya Melayu. Misalnya larik ”Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi…!?”, benar-benar khas idiom Melayu Medan. Bahkan hingga sekarang para pengkaji Chairil banyak yang tidak paham dengan kosakata ”hambus”, sehingga dalam versi lain sajak ”Perhitungan” itu diganti dengan ”hembus”. Misalnya dalam buku Derai-derai Cemara terbitan Horison, disebutkan, ”Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi…!?”
Tapi Chairil tampaknya tak pernah menuliskan suasana rumah di lingkungan perkampungan ini. Dia hanya melukiskan rumah ”gedong lebar halaman” dengan ”lampu merah muda caya”, namun dia tidak betah di sana karena Chairil tidak cocok dengan ayahnya. Kedua mereka dia lukiskan ”serupa dua kelewang bergeseran”.
Saya mencoba menarik ”benang kusut” ini sebagai berikut. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan di perkampungan sekitar Mesjid Raya itu. Karena pasangan Toeloes dan Saleha itu tak harmonis, mereka bercerai. Dan ayahnya Toeloes menikah lagi. Ibunya Saleha pindah ke Jakarta. Chairil ikut ayahnya menempati rumah pamong di ”gedong lebar halaman” itu. Karena Toeloes sangat mencintai Chairil, lagi pula dia adalah pegawai tinggi Belanda (di masa revolusi kemerdekaan dia menjadi bupati Indragiri), ayahnya memasukkan Chairil ke MULO di sekitar Jalan Abdullah Lubis.
Belakangan Chairil tidak cocok dengan ayahnya, lalu minggat ke Jakarta, menyusul ibunya, sebelum menamatkan MULO. Ayahnya menjemputnya, tapi Chairil menolak. Sehingga ayahnya yang temperamental itu berang lalu berteriak, ”Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi…!?”
Sekarang dengan penelusuran yang belum tuntas ini, menjadi tugas kitalah untuk menyelidiki dengan pasti di manakah sebenarnya rumah kelahiran dan kediaman Chairil. Ironis kalau penyair legendaris sekaliber dia yang telah ditokoh oleh majalah Tempo sejajar Soekarno dan Sjahrir tak diketahui sejarah hidup dan tempat tinggalnya secara pasti.
Damiri Mahmud Penulis, Tinggal di Medan
………………………………………………………………buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (1948)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru, No. 11-12, 20-30 Agustus 1957
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! (1948)
Siasat, Th III, No. 96, 1949
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
(1949)
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
(1949)